BENCANA GEMPA SUMBAR Pasokan BBM Kembali Normal Senin, 5 Oktober 2009 PADANG : Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro memastikan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) untuk masyarakat di Sumatera Barat (Sumbar) terpenuhi. Karena itu, dia mengimbau agar masyarakat tidak lagi memborong BBM, karena stok dan pasokan mencukupi kebutuhan di Sumbar. Bahkan untuk beberapa pekan ke depan. “Stok dan pasokan BBM tidak mengalami masalah. Masyarakat tidak usah panik hingga harus antre di SPBU-SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum), sehingga menimbulkan kepanikan anggota masyarakat lainnya,” kata Purnomo saat berada di Posko Bencana Kota Padang, Sabtu (3/9). Dia lantas mengajak masyarakat untuk kembali tenang dan tidak perlu membeli BBM secara berlebihan. Apalagi ini terkait degan kenyataan bahwa di sejumlah sudut jalan, sejumlah penjual bensin dadakan menjual dengan harga mulai Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per liter. Pada kesempatan yang sama, Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Achmad Faisal mengatakan, stok BBM jenis premium, solar, dan minyak tanah untuk Sumbar, khususnya Padang, mencukupi. Persediaan sampai 14 hari ke depan. “Sejak beberapa hari ini, Pertamina sudah menyalurkan BBM cukup banyak dan melebihi kebutuhan pada hari-hari normal. Namun, masyarakat justru membeli BBM di luar kebutuhannya, misalnya ada seseorang yang membeli 40 liter dengan jeriken,” ujarnya. Faisal mensinyalir, pembelian BBM secara besar-besaran ini diyakini akan dijual kembali dengan harga lebih tinggi. Untuk itu, Pertamina berkoordinasi dengan aparat Kepolisian Sektor Kota Padang untuk menertibkan pembelian BBM di SPBU. “Kami sudah meminta bantuan Polisi untuk menertibkan pembelian BBM di SPBU, antara lain dengan menerapkan aturan melarang masyarakat membeli memakai jeriken dan hanya bisa membeli BBM sesuai kebutuhan. Tiga unit SPBU di Kota Padang sudah mulai membatasi pembelian BBM oleh masyarakat atau sesuai kebutuhan. Sementara itu, Deputi Pemasaran Pertamina Hanung Budya, yang baru saja tiba di Jakarta, Minggu (4/10), mengatakan, Pertamina akan terus memantau dan menjaga kondisi pasokan BBM di Sumbar. Sejak Sabtu (3/10) sore, sudah tidak terlihat lagi antrean masyarakat yang membeli BBM di Kota Padang dan sekitarnya. Keputusan Pertamina yang melarang pembelian dengan memakai jeriken mulai Sabtu (3/10) pagi ternyata efektif untuk menghentikan antrean. Hanung juga mengatakan, saat ini, dari 92 SPBU yang ada di Sumbar, 88 unit di antaranya sudah beroperasi normal. Khusus di Kota Padang, sudah beroperasi 22 SPBU dan ditambah 3 SPBU darurat dan 1 unit SPBU bergerak buat memasok kebutuhan kendaraan pemberi bantuan dan lainnya. Dalam kunjungannya, Menteri ESDM memberikan bantuan bagi Kota Padang sejumlah Rp 11,3 miliar. Rinciannya, Rp 4,3 miliar lebih berupa barang dan Rp 7 miliar berupa dana tunai. Listrik Di lain pihak, PT PLN (Persero) menargetkan pasokan listrik yang terganggu akibat gempa di Sumbar sudah kembali normal pada pekan ini. Dirut PLN Fahmi Mochtar mengatakan, saat ini, pasokan listrik di Kota Padang sudah beroperasi hingga 60 persen dan di Kota Pariaman 100 persen. “Kami mengupayakan selesai dalam seminggu ini, dan semua gardu ditargetkan sudah dapat kembali berfungsi. Tapi, memang belum tentu semua lampu di rumah dan gedung dapat menyala. Ini mengingat kabel yang terputus harus diperbaiki terlebih dahulu demi keselamatan warga dan petugas,” katanya. Menurut dia, seluruh jaringan transmisi dan gardu induk tegangan tinggi di kedua kota-kota tersebut juga sudah beroperasi. Selain itu, sebanyak 176 dari 529 gardu distribusi sudah beroperasi kembali pada Sabtu (4/10) pukul 14.00. PLN hanya menunggu peralatan trafo yang didatangkan melalui perjalanan darat dari Jakarta, Palembang, dan Medan menuju Padang. PLN berencana mendatangkan sekitar 110 trafo dan 23 genset, termasuk yang disumbangkan mitra PLN. Beberapa genset dilengkapi penerangan yang dapat dipakai dalam proses evakuasi korban di malam hari. Dalam percepatan perbaikan, PLN telah mengirim 310 tenaga teknisi dari berbagai daerah Sumatera, DKI Jakarta, dan Jawa Barat terjun ke lapangan untuk memperbaiki gardu serta sistem jaringan yang rusak. Mengenai pemadaman di Pariaman, Fahmi menjelaskan, saat ini tim teknis PLN juga sedang bekerja. Hingga Sabtu (3/10), pemulihan sudah di atas 20 persen, dan Kota Pariaman sudah menyala kembali. Seperti diketahui, akibat gempa, sebanyak empat gardu induk (GI) padam sehingga menyebabkan Kota Padang dan sekitarnya mengalami pemadaman listrik total. Keempat GI ini meliputi GI Lubuk Alung, PIP, Pauh Limo, dan Simpang Haru dengan kapasitas 120 MW serta memasok listrik ke 150.000 pelanggan. APBN 2010 Di tempat terpisah, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, dana untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi gempa bumi di Sumbar kemungkinan masuk anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2010. “Di APBN 2009 bisa melalui pos belanja lainnya. Tapi, mengingat waktunya terbatas, kemungkinan besar akan ditutup melalui APBN 2010 dengan mempercepat perubahan. Kalau 2009 waktunya terbatas,” katanya. Menurut dia, untuk tahap tanggap darurat, pembiayaan akan tetap melalui APBN 2009. “Dana di 2009 cukup untuk tanggap darurat. Ini belum dari bantuan masyarakat dan negara-negara sahabat,” tuturnya. Paskah menjelaskan, kerusakan akibat gempa bumi di Sumbar lebih besar dibanding dengan gempa bumi yang terjadi di Jawa Barat beberapa waktu lalu. Karena itu, dana rehabilitasi dan rekonstruksi gempa lebih besar dibanding di Jawa Barat yang butuh Rp 1,5 triliun. “Kalau dilihat dari desain bangunan dan penataan RTRW (rencana tata ruang wilayah), pasti lebih dari Rp 1,5 triliun,” tuturnya. Berdasarkan perhitungan, untuk rumah tahan gempa membutuhkan Rp 1,5 juta per m2. Sedangkan untuk pembenahan RTRW belum diketahui berapa dana yang dibutuhkan. Untuk RTRW di Sumatera Barat setidaknya membutuhkan penataan ulang, karena bencana gempa bumi ini telah menghancurkan kota. (Zulkifli)