122 tahun lalu, tepatnya 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau pernah meletus hebat. Letusan itu menimbulkan tsunami di sepanjang pantai selatan Sumatera dan pantai barat Jawa Barat. Ketika itu, lebih dari 36.000 jiwa menjadi korban tragedi letusan Gunung Krakatau.
Letusan itu juga mengakhiri aktivitas (induk) Gunung Krakatau. Saat ini, gunung itu hanya seperti gundukan tanah yang dipenuhi pohon pinus dan tumbuhan paku-pakuan yang menjulang di tengah laut.

Baru pada tahun 1927, di sekitar lokasi letusan timbul gundukan menyerupai gunung api di sekitar Gunung Krakatau. Orang kemudian menyebut gundukan itu sebagai Anak Gunung Krakatau yang hingga sekarang masih aktif.
Anak Gunung Krakatau itu berada di tengah-tengah antara Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Rakata Besar. Rakata Besar itulah sebutan sekarang untuk Gunung Krakatau yang sekarang tidak aktif lagi. Setelah 78 tahun timbul, kini tinggi Anak Krakatau mencapai 315 meter di atas permukaan laut.

Dari kejauhan, Anak Gunung Krakatau itu terlihat berwarna hitam keabu-abuan karena sebagian besar memang terdiri dari kerikil dan pasir hitam. Hanya ada sedikit pohon pinus mengelilingi kaki gunung yang lokasinya di tengah Selat Sunda itu.
Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan RI No 85/Kpts.II/ 1990 tanggal 26 Februari 1990 menyebutkan kawasan Anak Gunung Krakatau dan sekitarnya telah ditetapkan sebagai kawasan cagar alam laut.